SAMARINDA - Permasalahan narkoba di Kampung Tenun, Kelurahan Tenun, Jalan Pangeran Bendahara, Samarinda, bukan lagi cerita baru.
Wilayah yang terbagi menjadi dua Rukun Tetangga (RT) ini kini menjadi sorotan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur, setelah dinyatakan sebagai salah satu zona hitam peredaran narkoba di Kota Samarinda.
Brigjen Pol Rudi Hartono, Kepala BNNP Kaltim, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Kampung Tenun saat ini, yang sangat berbeda dengan masa kejayaannya di era 90-an.
Rudi, yang pernah berdinas di Samarinda pada periode tersebut, mengenang Kampung Tenun sebagai pusat produksi kain berkualitas tinggi.
"Kampung Tenun dulu sangat dibanggakan. Masyarakatnya dikenal ulet dan produktif. Kain-kain yang mereka hasilkan menjadi kebanggaan lokal sebelum teknologi tekstil modern menggeser peran mereka," kata Rudi.
Namun, kini Kampung Tenun identik dengan stigma kawasan angker akibat maraknya peredaran narkoba.
"Saya tidak setuju menyebutnya angker, karena itu sama saja menyalahkan leluhur yang telah membangun kampung ini. Tantangan kita adalah mengembalikan kejayaan kampung ini," tegasnya.
Menurut Rudi, kemerosotan ekonomi menjadi salah satu akar masalah di Kampung Tenun. Ketika persaingan bisnis tekstil semakin ketat dan daya beli produk lokal menurun, sebagian masyarakat mencari jalan pintas, termasuk terjerumus ke peredaran narkoba.
"Tantangan terbesar adalah bagaimana pemerintah daerah dapat mengurai masalah ini. Jangan sampai Kampung Tenun semakin tenggelam dalam stigma negatif," ujarnya.
Rudi juga menyoroti pola peredaran narkoba yang sering melibatkan jaringan kompleks, termasuk upaya bandar mencari legitimasi dari masyarakat dan aparat.
"Mereka sering menciptakan patron dan meminta dukungan dari berbagai pihak, sehingga bisnis mereka seolah mendapat pembenaran. Stigma ini harus dihapus," katanya.
Sebagai langkah konkret, BNNP Kaltim bekerjasama dengan Kecamatan Samarinda Seberang dan Kelurahan Tenun menggelar kampanye anti narkoba, Jumat (13/12). Kegiatan ini melibatkan 700 pelajar dan siswa melalui kampanye kreatif, pemasangan stiker, hingga olahraga bersama.
"Ini adalah awal dari upaya kami mengembalikan Kampung Tenun ke jalur yang benar," kata Rudi. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara BNN, pemerintah, dan masyarakat dalam membenahi kawasan ini.
Camat dan Lurah setempat pun sepakat untuk memberikan perhatian khusus pada Kampung Tenun, meski tidak mengabaikan kawasan lain.
"Dalam perkembangannya, kami melihat Kampung Tenun menunjukkan dampak yang kurang baik. Ini harus menjadi prioritas penanganan," tutup Rudi.
Dengan langkah awal yang telah dimulai, diharapkan Kampung Tenun dapat kembali menjadi ikon budaya yang membanggakan, bebas dari bayang-bayang narkoba. (kpg/jnr)
Editor : Azwar Halim