Perimetri adalah alat yang digunakan untuk memeriksa luas lapangan pandang manusia dengan mata terfiksasi sentral dengan cara memberikan stimulus berupa cahaya. Penilaian lapangan pandang merupakan hal yang penting dilakukan pada keadaan penyakit yang mempunyai potensi terjadinya kebutaan.
“Alat ini digunakan untuk di mata, tujuannya untuk mencari lapang pandang verified. Kita mencari salah satu dari pada glaukoma itu adalah defek lapang pandangan verified. Tiga gloukoma itu, pertama tekanan mata tinggi. kedua ada kelainan pada fadil nevos dua. Ketiga penyempitan pada lapang pandang,” kata dr. Made Spesialis Mata kepada Radar Tarakan, Senin (5/6).
Ia menjelaskan, alat ini berfungsi untuk mengetahui dan mendeteksi fungsi dari pada retina verified. Visualfied itu sebenarnya bisa juga untuk mendeteksi selain di mata, tapi bisa mendeteksi kelainan pada otak, karena mata itu berhubungan dengan otak.
“Jadi mata yang dilihat fungsi retina verified, tapi sepanjang perjalanan dari mata ke otak itu, nanti ada visual faklis. Jadi kadang - kadang bisa dipakai untuk dokter nuerologi atau dokter saraf. Untuk mengetahui adanya kelainan defekted dari pada visualfied. Misalnya ada tumor atau ada apa – apa di otak bisa dilihat disini,” ujarnya.
Mengapa pada penderita glaukoma perlu pemeriksaan lapang pandang. Ia menjelaskan apabila terdapat kelainan, dapat dilakukan foto saraf mata. Selain itu, pemeriksaan lain yang akan dilakukan adalah pemeriksaan lapang pandang. Lapang pandang merupakan standar baku untuk menentukan diagnosis glaukoma, karena dapat menunjukkan kelainan pada fungsi saraf mata.
“Glaukoma adalah gangguan pada mata dimana tekanan cairan dalam bola mata meningkat, berakibat kerusakan pada serat lembut saraf optik yang bertugas membawa sinyal penglihatan dari mata ke otak,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, untuk mengenali glaukoma, sakit mata yang parah, penglihatan yang terus memburuk, kemerahan pada mata, sakit mata yang disertai mual dan muntah, dan saat melihat lampu terdapat lingkaran seperti pelangi.
Oleh karena itu, Ia menghimbau untuk melakukan pemeriksaan skrining glaukoma secara berkala. Dibawah umur 40 tahun pemeriksaan setiap 2-4 tahun, umur diatas 40 tahun pemeriksaan setiap 2 tahun, jika ada riwayat keluarga memiliki glaukoma pemeriksaan setiap 1 tahun.
“Skrining berkala dilakukan untuk mendeteksi glaukoma secara dini, salah satunya adalah dengan Pemeriksaan Humphrey Field Analyzer dengan prosedur Humphrey Field Analyzer, ruangan harus gelap dan tenang, waktu pemeriksaan adalah sekitar 10 menit untuk setiap mata, pengisian data pasien dan detail pemeriksaan,” ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakannya, untuk penempatan pasien, mata yang tidak diperiksa ditutup. Pasien duduk di kursi pemeriksaan dengan tangan memegang bel. Dagu diletakkan di atas sandaran dagu sehingga mata yang akan diperiksa terletak di tengah garis lintasan pada layar monitor.
“Kemudian, pasien harus selalu melihat cahaya kuning yang ada di tengah, Pada saat mata pasien terfiksasi pada cahaya kuning, komputer akan memancarkan sinar kecil secara acak di sekitarnya. Pasien harus menekan tombol yang berada ditangannya setiap kali mereka melihat sinar tersebut. Pasien diperbolehkan mengedipkan mata, terutama setelah melihat target, Pasien tidak diperbolehkan bicara selama pemeriksaan kecuali mengalami masalah,” terangnya.
Alat Humphrey Field Analyzer mempunyai keunggulan, yakni lebih akurat, parameter stimulus terstandarisasi dan dapat bervariasi, tidak ada bias yang mempengaruhi respon pasien, penyimpanan dan analisis data dilakukan dengan computer, dan dapat beradaptasi dengan setiap penderita.
“Di Kaltara alat ini hanya ada di RSUD dr. H Jusuf. SK. Alat ini termasuk canggih, karena sangat sensitif untuk mengetahui kelaianan lapang pandang verified,” pungkasnya. (adv/dob/har) Editor : Azwar Halim