alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Perpusnas Berharap Kolaborasi Stakeholder Membangun Literasi

TANJUNG SELOR – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI sebagai pembina untuk semua jenis perpustakaan dengan dukungan dari Bappenas pada tahun 2018 lalu telah melaksanakan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS).

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, meningkatkan penggunaan layanan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan membangun komitmen serta dukungan pemangku kepentingan untuk transformasi perpustakaan yang berkelanjutan.

Dengan harapan dapat terciptanya masyarakat sejahtera melalui transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Bahkan, sejak tahun 2020 lalu, program tersebut telah menjadi program prioritas nasional dan dimasukkan dalam RPJMN 2020-2024.

Pada pelaksanaan stakeholder meeting (SHM) provinsi yang digelar di Tanjung Selor, Kamis (27/7), Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional RI, Drs. Renus Siboro, M.Si, menjelaskan tujuan untuk mempertemukan para pemangku kepentingan agar dapat berkolaborasi atau bersinergi dalam membangun literasi masyarakat.

Kolaborasi dan sinergi yang bisa dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dan mendorong tugas pokok dan fungsi ataupun tujuan dari setiap pemangku kepentingan.

Terkait kolaborasi yang bisa diberikan dapat berupa kerja sama program, sumber daya manusia, barang dan materiel.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian dari siklus tahunan pelaksanaan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pada tahun 2022 ini stakeholder meeting (SHM) provinsi dilaksanakan di 33 provinsi secara onsite (tatap muka), dibagi dalam 5 gelombang. Setiap gelombang dilaksanakan di 6-7 provinsi,” jelasnya kepada pewarta Radar Tarakan saat ditemui di sela-sela acara SHM berlangsung.

Di sisi lain, pihaknya berharap dengan terlaksananya SHM provinsi, maka dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam membangun literasi masyarakat melalui transformasi PBIS. Pertemuan di tingkat provinsi ini merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendukung bagi pelaksanaan program di level provinsi, kabupaten dan desa.

Baca Juga :  Dibagi Tiga, Ini HET Terbaru Minyak Goreng

“Ekosistem pendukung yang diharapkan dapat memastikan tersedianya landasan kebijakan yang dibutuhkan bagi pelaksanaan program di daerah, terbentuknya kerja sama dan jejaring antara perpustakaan daerah dengan pemangku kepentingan dan terjadinya perluasaan program melalui replikasi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial secara mandiri dan berkelanjutan,” harapnya.

Bila ekosistem sudah berjalan baik, tambahnya, maka peran seluruh pemangku kepentingan akan jelas dan saling terkait satu sama lain. Serta saling bersinergi hingga proses membangun sumber daya manusia melalui penguatan literasi dalam transformasi perpustakaan akan berkelanjutan dan berkontribusi optimal dalam meningkatkan kualitas sumber daya dan kesejahteraan masyarakat.

“Sekali lagi, harapannya dengan terlaksananya SHM provinsi ini. Maka, ada komitmen dari pada stakeholder yang bakal terlibat. Tugas Dinas Perpustakaan Kaltara dan kabupaten. Ke depannya dapat desain ulang program yang akan dilaksanakan. Misal 2023 apa yang akan dilaksanakan nantinya,” tutupnya.

TEMPAT FAVORIT WARGA
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pemangku kepentingan di Kaltara mendukung dan akan mengambil peran untuk keberlanjutan TPBIS. Sebab pola ini dapat memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan untuk berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak asasi manusia.

“Jadikan perpustakaan tempat favorit untuk dikunjungi warga. Jangan seperti pola lama, perpustakaan hanya sekadar tempat penyimpanan dan peminjaman buku. Tapi menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat, serta pemberdayaan masyarakat,” ujar Staf Ahli Gubernur Kaltara, Syahrullah Mursalin saat membuka SHM TPBIS di Hotel Luminor, Tanjung Selor, Kamis (28/7).

Baca Juga :  Pengurus Cabang NU Tarakan

Pustakawan Ahli Muda Perpusda Kaltara, Aji Fika Trisnawaty mengatakan TPBIS berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Dicontohkan di Bulungan Perpusda menggelar pelatihan bahasa Inggris untuk anak-anak serta pendidikan karakter anak melalui nonton bareng film.

Sementara di Tarakan digelar pelatihan kuliner ekonomis, pelatihan desain produk serta pelatihan kaligrafi bagi siswa.

Untuk tingkat desa, seperti Perpusdes Gunung Putih menggelar pelatihan komputer bagi warga desa dan pelatihan paska panen kelapa. Sedangkan Perpusdes Sungai Nyamuk menggelar sosialisasi perilaku hidup sehat, pelatihan menari serta belajar menulis karya ilmiah.

“Penguatan literasi tidak bisa dilakukan sendiri oleh perpustakaan karena keterbatasan yang dimiliki. Perlu ekosistem yang mendukung agar berjalan secara berkelanjutan. Semua pemangku kepentingan memiliki peran dalam menciptakan SDM berkualitas lewat penguatan literasi masyarakat,”ujarnya

Fika mengatakan untuk menjaga keberlangsungan program TPBIS, sejak tahun lalu telah ditandatangi SK Gubernur Kaltara terkait tim sinergi Kaltara.

Diharapkan dalam waktu dekat bisa ditindaklanjuti dengan surat edaran Gubernur Kaltara kepada bupati/wali kota se-Kaltara untuk mendorong lurah/kepala desa untuk mengalokasikan anggaran dalam rangka pengembangan perpustakaan desa/kelurahan.

Selain itu, lanjut Fika, secara bertahap dilakukan pendekatan membangun jejaring dengan OPD serta unsur lain seperti perguruan tinggi, swasta, media massa serta pihak lain yang memiliki komitmen sama untuk mengembangkan program.

“Ke depan perpustakaan akan proaktif untuk dapat membantu individu dan masyarakat dalam mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri dan membantu meningkatkan jejaring sosial. Perpustakaan juga mendukung komunitas, orang dewasa dan keluarga untuk belajar di perpustakaan,” ujarnya. (dni/lim)

TANJUNG SELOR – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI sebagai pembina untuk semua jenis perpustakaan dengan dukungan dari Bappenas pada tahun 2018 lalu telah melaksanakan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS).

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, meningkatkan penggunaan layanan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan membangun komitmen serta dukungan pemangku kepentingan untuk transformasi perpustakaan yang berkelanjutan.

Dengan harapan dapat terciptanya masyarakat sejahtera melalui transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Bahkan, sejak tahun 2020 lalu, program tersebut telah menjadi program prioritas nasional dan dimasukkan dalam RPJMN 2020-2024.

Pada pelaksanaan stakeholder meeting (SHM) provinsi yang digelar di Tanjung Selor, Kamis (27/7), Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional RI, Drs. Renus Siboro, M.Si, menjelaskan tujuan untuk mempertemukan para pemangku kepentingan agar dapat berkolaborasi atau bersinergi dalam membangun literasi masyarakat.

Kolaborasi dan sinergi yang bisa dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dan mendorong tugas pokok dan fungsi ataupun tujuan dari setiap pemangku kepentingan.

Terkait kolaborasi yang bisa diberikan dapat berupa kerja sama program, sumber daya manusia, barang dan materiel.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian dari siklus tahunan pelaksanaan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pada tahun 2022 ini stakeholder meeting (SHM) provinsi dilaksanakan di 33 provinsi secara onsite (tatap muka), dibagi dalam 5 gelombang. Setiap gelombang dilaksanakan di 6-7 provinsi,” jelasnya kepada pewarta Radar Tarakan saat ditemui di sela-sela acara SHM berlangsung.

Di sisi lain, pihaknya berharap dengan terlaksananya SHM provinsi, maka dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam membangun literasi masyarakat melalui transformasi PBIS. Pertemuan di tingkat provinsi ini merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendukung bagi pelaksanaan program di level provinsi, kabupaten dan desa.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Sosialisasikan Program JKN-KIS ke Serikat Buruh

“Ekosistem pendukung yang diharapkan dapat memastikan tersedianya landasan kebijakan yang dibutuhkan bagi pelaksanaan program di daerah, terbentuknya kerja sama dan jejaring antara perpustakaan daerah dengan pemangku kepentingan dan terjadinya perluasaan program melalui replikasi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial secara mandiri dan berkelanjutan,” harapnya.

Bila ekosistem sudah berjalan baik, tambahnya, maka peran seluruh pemangku kepentingan akan jelas dan saling terkait satu sama lain. Serta saling bersinergi hingga proses membangun sumber daya manusia melalui penguatan literasi dalam transformasi perpustakaan akan berkelanjutan dan berkontribusi optimal dalam meningkatkan kualitas sumber daya dan kesejahteraan masyarakat.

“Sekali lagi, harapannya dengan terlaksananya SHM provinsi ini. Maka, ada komitmen dari pada stakeholder yang bakal terlibat. Tugas Dinas Perpustakaan Kaltara dan kabupaten. Ke depannya dapat desain ulang program yang akan dilaksanakan. Misal 2023 apa yang akan dilaksanakan nantinya,” tutupnya.

TEMPAT FAVORIT WARGA
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pemangku kepentingan di Kaltara mendukung dan akan mengambil peran untuk keberlanjutan TPBIS. Sebab pola ini dapat memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan untuk berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak asasi manusia.

“Jadikan perpustakaan tempat favorit untuk dikunjungi warga. Jangan seperti pola lama, perpustakaan hanya sekadar tempat penyimpanan dan peminjaman buku. Tapi menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat, serta pemberdayaan masyarakat,” ujar Staf Ahli Gubernur Kaltara, Syahrullah Mursalin saat membuka SHM TPBIS di Hotel Luminor, Tanjung Selor, Kamis (28/7).

Baca Juga :  Para Lulusan Diharapkan Mampu Berdaya Saing

Pustakawan Ahli Muda Perpusda Kaltara, Aji Fika Trisnawaty mengatakan TPBIS berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Dicontohkan di Bulungan Perpusda menggelar pelatihan bahasa Inggris untuk anak-anak serta pendidikan karakter anak melalui nonton bareng film.

Sementara di Tarakan digelar pelatihan kuliner ekonomis, pelatihan desain produk serta pelatihan kaligrafi bagi siswa.

Untuk tingkat desa, seperti Perpusdes Gunung Putih menggelar pelatihan komputer bagi warga desa dan pelatihan paska panen kelapa. Sedangkan Perpusdes Sungai Nyamuk menggelar sosialisasi perilaku hidup sehat, pelatihan menari serta belajar menulis karya ilmiah.

“Penguatan literasi tidak bisa dilakukan sendiri oleh perpustakaan karena keterbatasan yang dimiliki. Perlu ekosistem yang mendukung agar berjalan secara berkelanjutan. Semua pemangku kepentingan memiliki peran dalam menciptakan SDM berkualitas lewat penguatan literasi masyarakat,”ujarnya

Fika mengatakan untuk menjaga keberlangsungan program TPBIS, sejak tahun lalu telah ditandatangi SK Gubernur Kaltara terkait tim sinergi Kaltara.

Diharapkan dalam waktu dekat bisa ditindaklanjuti dengan surat edaran Gubernur Kaltara kepada bupati/wali kota se-Kaltara untuk mendorong lurah/kepala desa untuk mengalokasikan anggaran dalam rangka pengembangan perpustakaan desa/kelurahan.

Selain itu, lanjut Fika, secara bertahap dilakukan pendekatan membangun jejaring dengan OPD serta unsur lain seperti perguruan tinggi, swasta, media massa serta pihak lain yang memiliki komitmen sama untuk mengembangkan program.

“Ke depan perpustakaan akan proaktif untuk dapat membantu individu dan masyarakat dalam mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri dan membantu meningkatkan jejaring sosial. Perpustakaan juga mendukung komunitas, orang dewasa dan keluarga untuk belajar di perpustakaan,” ujarnya. (dni/lim)

Most Read

Kuras Keringat di Rute Aspal

BKS Kembali Diekspor ke Vietnam

Artikel Terbaru

/