alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

KHN-Inalum Sepakat Studi Bersama

TARAKAN – Menjelang akhir tahun 2020, PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN) yang akan menggarap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk di Sungai Mentarang, Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan PT Indonesia Asahan Aluminium atau lebih dikenal dengan PT Inalum (Persero). Keduanya sepakat studi bersama dalam rencana penyediaan listrik smelter aluminium terintegrasi yang ditopang Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk.

Adapun penandatanganannya dilakukan secara virtual oleh Presiden Direktur PT KHN, Antony Lesmana, dan Direktur Pelaksana PT Inalum, Oggy Achmad Kosasih. Penandatanganan nota kesepahaman itu juga disaksikan SEVP Business Development PT Inalum (Persero) Oktavianus Tarigan, Gubernur Kaltara terpilih, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, Bupati Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si, Bupati Bulungan terpilih, Syarwani, S.Pd, M.Si, Bupati Malinau terpilih, Wempi W Mawa, S.E, Komisaris PT KHN, Juanda Lesmana dan Direktur PT KHN Nick Wright.

Direktur Layanan Strategis PT Inalum, Ogi Prastomiyono menyampaikan rasa hormat dan bangga atas penandatanganan itu. PT Inalum sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang industri peleburan aluminium turut dalam kajian penyediaan listrik bagi smelter aluminium terintegrasi dengan PLTA Mentarang Induk. “Kami sangat berterima kasih atas kerja sama yang dilakukan dengan PT KHN, dengan kerja sama ini kami harapkan bisa mencapai visi dari PT Inalum untuk mencapai produksi 1 juta ton pada tahun 2025 mendatang,” ujarnya.

PT Inalum didirikan pada 6 Januari 1976. Pada tahun 2017 menerima mandat dari pemerintah sebagai holding company membawahi sejumlah perusahaan. “Kami diminta untuk dapat mengembangkan realisasi dari produk-produk mineral dalam tambang,” ucapnya.

Diakui Ogi, PT Inalum memiliki pengalaman dalam membangun pembangkit dengan memanfaatkan aliran sungai. “Dua PLTA di Danau Toba menghasilkan 600 megawatt dan kita juga mendapatkan mandat untuk bisa mengembangkan komoditas tambang menjadi produk-produk hilirasi,” katanya.

Presiden Direktur PT KHN, Antony Lesmana mengatakan, penandatanganan MoU menandai hal penting dalam pembangunan PLTA Mentarang Induk dan alumunium smelter plan di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning. “PLTA ini sebagai salah satu proyek terintegrasi dengan smelter yang mana nanti kami akan bersama-sama mengembangkan opsi pembangunan yang optimal untuk proyek terintegrasi ini. Kami akan mencari sisi komersial yang optimal bagi kedua belah pihak yang tentunya menguntungkan semua pemangku kepentingan, jadi tidak ada yang harus rugi,” ucapnya.

Baca Juga :  Sembelih 14 Ekor Sapi dan 8 Ekor Kambing

Pihaknya yakin bisa bekerja sama dengan PT Inalum dan siap mengambil keputusan investasi akhir pada paruh kedua 2022. Hal tersebut dilihat dari hasil negosiasi dan studi komersial dengan PT Inalum. “Diyakini proyek terintegrasi ini nantinya akan menjadi katalis yang sangat besar untuk merealisasikan potensi besar dalam pembangunan ekonomi Kaltara dan Indonesia secara keseluruhan. Proyek terintegrasi ini juga harus pertama dari banyak proyek pengembangan bersama dalam pemanfaatan energi terbarukan yang berkelanjutan,” tuturnya.

Dengan hampir 300 ribu jam kerja yang sudah dilewati dalam pembangunan PLTA Mentarang Induk, PT KHN sudah melakukan persiapan yang cukup, mulai dari teknis proyek dalam pembangunan hingga pengoperasian aman dan andal yang akan memenuhi standar Indonesia dan internasional. “PLTA Mentarang Induk sendiri memiliki kapasitas 1.375 MW yang mana dapat menghasilkan firm power 925 MW dan maksimum daya per tahun  8.103 GWh, dengan tinggi dam mencapai 220 meter menjadikannya dam tertinggi ke-2 di dunia,” tuturnya.

Bupati Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si, mengatakan, adanya kerja sama antara PT KHN dengan PT Inalum diharapkan memberikan manfaat besar untuk kelancaran  pembangunan proyek tersebut nantinya. “Saya perlu sampaikan bahwa saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Malinau, dirinya menyampaikan perkembangan pembangunan proyek PLTA Mentarang Induk, beliau menyambut baik dengan adanya proyek tersebut,” ujarnya.

Keberadaan PLTA Mentarang Induk dinilai sangat penting berkontribusi dalam pembangunan Kaltara, bahkan bisa ikut menopang kebutuhan listrik terkait rencana perpindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim. “Beliau langsung menegaskan dukungannya dengan memerintahkan dan menginstruksikan kepada saya untuk membantu kelancaran pembangunan proyek ini dengan cepat,” jelasnya.

PLTA Mentarang Induk, kata dia, merupakan proyek dengan investasi bernilai USD 2 miliar USD atau setara dengan Rp 28 triliun (kurs Rp 14.203,56). Ia optimistis pembangunan PLTA Mentarang Induk dapat segera terwujud.

Proyek strategis ini juga akan menjadi kebanggaan bagi Kaltara. “Selaku bupati Malinau, insyaallah saya dan Bapak Zainal Arifin Paliwang tahun depan akan dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur Kaltara. Dalam hal ini saya selalu siap membantu dan turut mengawal pembangunan PLTA Mentarang Induk agar dapat terlaksana dengan baik dan lancar,” ujar wakil gubernur Kaltara terpilih ini.

“Saya juga turut serta menginisiasi dimulainya kerja sama dan langkah-langkah selanjutnya sampai dilakukan penandatanganan MoU ini. Semoga tidak ada hambatan dan segera mengerjakan proyek ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Febiola, Peserta Pertama Tabungan Kurban Baznas

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara ke depan juga akan memberikan dukungan sepenuhnya terhadap pembangunan PLTA Mentarang Induk. Menurutnya, proyek ini membawa dampak yang sangat besar bagi kemajuan sosial, ekonomi yang sangat siginifikan, berkelanjutan bagi masyarakat Malinau dan Kaltara.

Oleh sebab itu, dengan kehadiran proyek ini akan memberikan dukungan pasokan listrik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Sejak awal saya telah mengikuti cikal bakal pembangunan PLTA Mentarang Induk ini dan saya tahu sekali bermula dari pengusaha lokal yang bernama Pak Juanda Lesmana yang tentu kita tahu bersama, beliau sangat concern (perhatian) berupaya berinvestasi di Kaltara,” tuturnya.

Pembangunan juga menggandeng salah satu BUMN raksasa dari Malaysia, yakni Sarawak Energy. “Dengan kehadiran BUMN dan perusahaan lokal pada proyek PLTA ini, saya harapkan dapat semakin terjalin hubungan yang baik, kerja yang baik dan setara, serta harmonis,” bebernya.

Kenang Yansen, Juanda yang merupakan penguasaha lokal merintis usaha dengan penuh perjuangan dan pengorbanan yang besar. “Selaku pimpinan daerah dari Kaltara, khususnya lokasi kegiatan proyek PLTA ini saya sangat mendukung adanya pengusaha lokal yang mengerti dan paham kondisi lokal. Tentu ini menguntungkan untuk semuanya, karena memudahkan untuk berkomunikasi, jika diperlukan hal-hal yang berkaitan dengan penyelesaian berbagai masalah untuk kelancaran pembangunan proyek ini,” tambahnya.

Ia berpesan kepada PT KHN dalam mengerjakan proyek ini, agar dapat memberdayakan UMKM yang berada di sekitar proyek khususnya di Malinau. Diharapkan dapat bermitra dan kearifan lokal yang berlaku di sekitar proyek PLTA. Sehingga proyek ini tidak hanya menopang pengembangan industri di Kaltara, tetapi juga bisa menghidupkan masyarakat yang berada di sekitarnya terlebih masyarakat Malinau.

Semoga proyek ini, harapnya, bisa menompang sektor-sektor lain seperti pariwisata, perikanan bahkan pertanian, yang dapat memberikan kontribusi dan kebutuhan masyarakat sekitarnya. “Saya juga menyampaikan ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Malinau. Pada kesempatan itu, saya menjelaskan progres proyek ini. Saya bersyukur Presiden Jokowi menyambut baik proyek ini untuk dilaksanakan. Karena beliau menganggap proyek ini penting, memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Kaltara bahkan menopang pindahnya ibu kota ke Kaltim. Ketika itu beliau dengan dukungannya memerintahkan dan menginstruksikan kepada saya untuk membantu kelancaran pembangunan proyek ini dengan cepat,” cetusnya.

Ia berpesan kepada bupati Malinau yang baru terpilih memberikan dukungan maksimal terhadap pelaksanakan proyek ini saat berjalan. (adv/jnr/lim)

 

TARAKAN – Menjelang akhir tahun 2020, PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN) yang akan menggarap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk di Sungai Mentarang, Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan PT Indonesia Asahan Aluminium atau lebih dikenal dengan PT Inalum (Persero). Keduanya sepakat studi bersama dalam rencana penyediaan listrik smelter aluminium terintegrasi yang ditopang Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk.

Adapun penandatanganannya dilakukan secara virtual oleh Presiden Direktur PT KHN, Antony Lesmana, dan Direktur Pelaksana PT Inalum, Oggy Achmad Kosasih. Penandatanganan nota kesepahaman itu juga disaksikan SEVP Business Development PT Inalum (Persero) Oktavianus Tarigan, Gubernur Kaltara terpilih, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, Bupati Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si, Bupati Bulungan terpilih, Syarwani, S.Pd, M.Si, Bupati Malinau terpilih, Wempi W Mawa, S.E, Komisaris PT KHN, Juanda Lesmana dan Direktur PT KHN Nick Wright.

Direktur Layanan Strategis PT Inalum, Ogi Prastomiyono menyampaikan rasa hormat dan bangga atas penandatanganan itu. PT Inalum sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang industri peleburan aluminium turut dalam kajian penyediaan listrik bagi smelter aluminium terintegrasi dengan PLTA Mentarang Induk. “Kami sangat berterima kasih atas kerja sama yang dilakukan dengan PT KHN, dengan kerja sama ini kami harapkan bisa mencapai visi dari PT Inalum untuk mencapai produksi 1 juta ton pada tahun 2025 mendatang,” ujarnya.

PT Inalum didirikan pada 6 Januari 1976. Pada tahun 2017 menerima mandat dari pemerintah sebagai holding company membawahi sejumlah perusahaan. “Kami diminta untuk dapat mengembangkan realisasi dari produk-produk mineral dalam tambang,” ucapnya.

Diakui Ogi, PT Inalum memiliki pengalaman dalam membangun pembangkit dengan memanfaatkan aliran sungai. “Dua PLTA di Danau Toba menghasilkan 600 megawatt dan kita juga mendapatkan mandat untuk bisa mengembangkan komoditas tambang menjadi produk-produk hilirasi,” katanya.

Presiden Direktur PT KHN, Antony Lesmana mengatakan, penandatanganan MoU menandai hal penting dalam pembangunan PLTA Mentarang Induk dan alumunium smelter plan di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning. “PLTA ini sebagai salah satu proyek terintegrasi dengan smelter yang mana nanti kami akan bersama-sama mengembangkan opsi pembangunan yang optimal untuk proyek terintegrasi ini. Kami akan mencari sisi komersial yang optimal bagi kedua belah pihak yang tentunya menguntungkan semua pemangku kepentingan, jadi tidak ada yang harus rugi,” ucapnya.

Baca Juga :  BPJAMSOSTEK Berikan Bantuan Helm untuk Tenaga Non ASN Dishub Tarakan

Pihaknya yakin bisa bekerja sama dengan PT Inalum dan siap mengambil keputusan investasi akhir pada paruh kedua 2022. Hal tersebut dilihat dari hasil negosiasi dan studi komersial dengan PT Inalum. “Diyakini proyek terintegrasi ini nantinya akan menjadi katalis yang sangat besar untuk merealisasikan potensi besar dalam pembangunan ekonomi Kaltara dan Indonesia secara keseluruhan. Proyek terintegrasi ini juga harus pertama dari banyak proyek pengembangan bersama dalam pemanfaatan energi terbarukan yang berkelanjutan,” tuturnya.

Dengan hampir 300 ribu jam kerja yang sudah dilewati dalam pembangunan PLTA Mentarang Induk, PT KHN sudah melakukan persiapan yang cukup, mulai dari teknis proyek dalam pembangunan hingga pengoperasian aman dan andal yang akan memenuhi standar Indonesia dan internasional. “PLTA Mentarang Induk sendiri memiliki kapasitas 1.375 MW yang mana dapat menghasilkan firm power 925 MW dan maksimum daya per tahun  8.103 GWh, dengan tinggi dam mencapai 220 meter menjadikannya dam tertinggi ke-2 di dunia,” tuturnya.

Bupati Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si, mengatakan, adanya kerja sama antara PT KHN dengan PT Inalum diharapkan memberikan manfaat besar untuk kelancaran  pembangunan proyek tersebut nantinya. “Saya perlu sampaikan bahwa saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Malinau, dirinya menyampaikan perkembangan pembangunan proyek PLTA Mentarang Induk, beliau menyambut baik dengan adanya proyek tersebut,” ujarnya.

Keberadaan PLTA Mentarang Induk dinilai sangat penting berkontribusi dalam pembangunan Kaltara, bahkan bisa ikut menopang kebutuhan listrik terkait rencana perpindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim. “Beliau langsung menegaskan dukungannya dengan memerintahkan dan menginstruksikan kepada saya untuk membantu kelancaran pembangunan proyek ini dengan cepat,” jelasnya.

PLTA Mentarang Induk, kata dia, merupakan proyek dengan investasi bernilai USD 2 miliar USD atau setara dengan Rp 28 triliun (kurs Rp 14.203,56). Ia optimistis pembangunan PLTA Mentarang Induk dapat segera terwujud.

Proyek strategis ini juga akan menjadi kebanggaan bagi Kaltara. “Selaku bupati Malinau, insyaallah saya dan Bapak Zainal Arifin Paliwang tahun depan akan dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur Kaltara. Dalam hal ini saya selalu siap membantu dan turut mengawal pembangunan PLTA Mentarang Induk agar dapat terlaksana dengan baik dan lancar,” ujar wakil gubernur Kaltara terpilih ini.

“Saya juga turut serta menginisiasi dimulainya kerja sama dan langkah-langkah selanjutnya sampai dilakukan penandatanganan MoU ini. Semoga tidak ada hambatan dan segera mengerjakan proyek ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Baznas Bantu Peralatan Sekolah Bagi Siswa Miskin

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara ke depan juga akan memberikan dukungan sepenuhnya terhadap pembangunan PLTA Mentarang Induk. Menurutnya, proyek ini membawa dampak yang sangat besar bagi kemajuan sosial, ekonomi yang sangat siginifikan, berkelanjutan bagi masyarakat Malinau dan Kaltara.

Oleh sebab itu, dengan kehadiran proyek ini akan memberikan dukungan pasokan listrik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Sejak awal saya telah mengikuti cikal bakal pembangunan PLTA Mentarang Induk ini dan saya tahu sekali bermula dari pengusaha lokal yang bernama Pak Juanda Lesmana yang tentu kita tahu bersama, beliau sangat concern (perhatian) berupaya berinvestasi di Kaltara,” tuturnya.

Pembangunan juga menggandeng salah satu BUMN raksasa dari Malaysia, yakni Sarawak Energy. “Dengan kehadiran BUMN dan perusahaan lokal pada proyek PLTA ini, saya harapkan dapat semakin terjalin hubungan yang baik, kerja yang baik dan setara, serta harmonis,” bebernya.

Kenang Yansen, Juanda yang merupakan penguasaha lokal merintis usaha dengan penuh perjuangan dan pengorbanan yang besar. “Selaku pimpinan daerah dari Kaltara, khususnya lokasi kegiatan proyek PLTA ini saya sangat mendukung adanya pengusaha lokal yang mengerti dan paham kondisi lokal. Tentu ini menguntungkan untuk semuanya, karena memudahkan untuk berkomunikasi, jika diperlukan hal-hal yang berkaitan dengan penyelesaian berbagai masalah untuk kelancaran pembangunan proyek ini,” tambahnya.

Ia berpesan kepada PT KHN dalam mengerjakan proyek ini, agar dapat memberdayakan UMKM yang berada di sekitar proyek khususnya di Malinau. Diharapkan dapat bermitra dan kearifan lokal yang berlaku di sekitar proyek PLTA. Sehingga proyek ini tidak hanya menopang pengembangan industri di Kaltara, tetapi juga bisa menghidupkan masyarakat yang berada di sekitarnya terlebih masyarakat Malinau.

Semoga proyek ini, harapnya, bisa menompang sektor-sektor lain seperti pariwisata, perikanan bahkan pertanian, yang dapat memberikan kontribusi dan kebutuhan masyarakat sekitarnya. “Saya juga menyampaikan ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Malinau. Pada kesempatan itu, saya menjelaskan progres proyek ini. Saya bersyukur Presiden Jokowi menyambut baik proyek ini untuk dilaksanakan. Karena beliau menganggap proyek ini penting, memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Kaltara bahkan menopang pindahnya ibu kota ke Kaltim. Ketika itu beliau dengan dukungannya memerintahkan dan menginstruksikan kepada saya untuk membantu kelancaran pembangunan proyek ini dengan cepat,” cetusnya.

Ia berpesan kepada bupati Malinau yang baru terpilih memberikan dukungan maksimal terhadap pelaksanakan proyek ini saat berjalan. (adv/jnr/lim)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/